Senin, 31 Oktober 2022

Ijazah Abah Guru Sekumpul Agar menjadi murid Rasulullah shalallahu alaihi wassalam

Keutamaan Sholawat Yang Terdapat dalam Dzikir khotaman.


Ingin Jadi Murid Rasulullah? Ini Ijazah Abah Guru Ija  Martapura


K.H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani bin H. Abd. Manaf bin Muhammad Seman bin H. M. Sa’ad bin H. Abdullah bin Mufti H.M. Khalid bin Khalifah H. Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Abah Guru Sekumpul. Ulama Sufi yang lahir di Tunggul Irang, Martapura, 11 Februari 1942 dan wafat di rumahnya di Sekumpul, Martapura, pada 10 Agustus 2005, merupakan sabahat KH Abdurrahman Wahid, almaghfurlah.


KH Muhammad Zaini Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul, Martapura) mengingatkan, setiap Muslim pasti ingin menjadi murid Rasulullah SAW. Ingin dibukakan hijab antara kita dengan sang Baginda Nabi Muhammad. Sebab, jika sudah dibukakan hijab atau menjadi murid Rasulullah, akan selamat dan beruntung di dunia dan di akhirat.


Abah Guru Sekumpul, dalam sebuah pengajian memberikan ijazah shalawat agar dibukakan hijab dengan Rasulullah.


"Marilah kita bersama-sama memperbanyak

shalawat kepada Rasulullah SAW, setiap malam. Ini diatur dalam kitab Ad-Durrun Nafis," dawuh Abah Guru Sekumpul.


Abah Guru Sekumpul melanjutkan, Barang siapa membaca shalawat ini sebanyak 10 ribu kali setiap malam dengan ikhlas, jangan ada tujuan ini itu, 10 ribu hitungan shalawatnya, Insya Allah dalam dua tahun, dia akan dibukakan hijab.


"Kalau sudah dibukakan Hijab, berarti menjadi murid Rasulullah SAW, maka kalau menjadi Murid Rasul, selamat sudah," kata Abah Guru Sekumpul.


Seperti dikutip laduni.id, begini bacaan Shalawat Nabi:


"Allahumm Shalli Ala Sayyidina Muhammadinin Nabiyyil Ummi Wala Alihi Washohbihi Wasallim".


اللهم صل علي سيدنا محمدن النبي امي وعلي أله وصحبه وسلم


Atau Shalawat berikut ini dan inilah yang dibaca berulang kali dibaca oleh Abah Guru Sekumpul.


"Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammad Annabiyil Ummi Wa ala Alihi Washohbihi Wasallim".


اللهم صل علي سيدنا محمد عن النبي امي وعلي أله وصحبه وسلم.


Shalawat tersebut dibaca sebanyak 10 ribu kali setiap malam. Beliau memperikirakan, ketika membaca shalawat tersebut akan menghabiskan waktu, jika dimulai pukul 08.00 malam atau 20.00 WIB makan akan selesai pada pukul 05.00 WIB (waktu Subuh).


"Syaratnya, harus dibaca dengan ikhlas, jangan ada tujuan ingin dibukakan hijab. Selama ada tujuan di dalam hati ingin dibukakan hijab, jangan dibaca dulu," kata Abah Guru Sekumpul.


Beliau menambahkan, hati harus kosong dari tujuan-tujuan tertentu, maka mulailah membaca. Sekali lagi, Syaratnya, mesti ikhlas, kalau tidak ikhlas, gak bisa. Dengan membaca shalawat itu, yang dirasakan pertama kali, pasti hati akan merasa nyaman.


Sholawat tersebut terdapat dalam Dzikir khotaman TQN Suryalaya dalam kitab Uqudul Juman. 


 اللهم صل على سيدنا محمد النبي الامي وعلى اله وصحبه وسلم.

HUKUM QUNUT DALAM SHALAT SHUBUH

Qunut shalat Shubuh.
Ada sebagian kalangan yang beranggapan bahwa qunut shubuh adalah tidak sunnah. Bahkan dalam sebuah tulisan di akun facebook saudari kita orang wahabi-salafi yang berinisial PB disitu disebutkan bahwa qunut shubuh haram hukumnya dengan alasan Rasulullah SAW tidak melaksanakannya. Tulisan si PB itu sungguh ceroboh kalau tidak mau dibilang memecah belah umat karena hanya berdalil pada satu hadits dan terjemahnya tapi sudah merasa paling benar dan yang lainnya dianggap salah.
 
Bagaimana seh sebenarnya hukum membaca qunut dalam shalat shubuh???? 

Apakah benar Rasulullah SAW tidak pernah melaksanakannya????

Wahai saudaraku ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa hukum membaca qunut pada shalat shubuh termasuk sunnah ab’adh. Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi (Imam Nawawi) dalam kitab al-Majmu’ mengatakan :
“Dalam madzhab kita (madzhab Syafi’i) disunnahkan membaca qunut dalam shalat shubuh. Baik ada bala’ (cobaan, bencana, adzab dll)maupun tidak, inilah pendapat kebanyakan ulama Salaf dan setelahnya. Di antaranya adalah Abu Bakar al-Shiddiq, ‘Umar bin al-Khaththab, ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, Ibn ‘Abbas dan al-Barra’ bin ‘Azib RA.” (Al-Majmu’, Juz I, hal 504)

Dalil yang bisa dijadikan landasan adalah hadits Nabi SAW :
“Diriwayatkan dari Anas Ibn Malik RA,” Beliau berkata : “Rasulullah SAW senantiasa membaca qunut ketika shalat shubuh sehingga beliau wafat.” (Musnah Ahmad bin Hanbal no. 12196)

Mengomentari hadits ini, pakar hadits al-‘Allamah Muhammad bin ‘Allan al-Shiddiqi dalam kitabnya, al-Futuhat al-Rabbaniyyah berkata :
“Adapun qunut di waktu shalat shubuh, maka Nabi SAW tidak pernah meninggalkannya sehingga beliau meninggal dunia. Inilah yang benar, dan diriwayatkan serta di-shahihkan oleh segolongan pakar yang banyak hafal hadits. Diantara orang yang menyatakan ke-shahih-an Hadits ini adalah al-Hafizh Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Ali al-Balkhi, al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak, dan dibeberapa tempat dari kitab yang ditulis oleh al-Baihaqi. Al-Daraquthni juga meriwayatkannya dari beberapa jalur dengan sanad yang shahih.” (Al-Futuhat al-Rabbaniyyah ‘ala al-Adzkar al-Nawawiyah, Juz II, hal 268).

Syaikh Jad al-Haq Ali Jad al-Haq salah seorang syaikh al-Azhar mengatakan :
Barang siapa yang melaksanakan qunut pada shalat shubuh, maka ia telah melaksanakan sunnah Nabi Muhammad SAW yang telah diikuti oleh sahabat Nabi SAW serta diamalkan para ulama mujtahid, fuqaha dan para ahli hadits. (al-Qunut bayn al-Syir’ah wa al-bid’ah, 46)

Memang ada hadits yang menyatakan bahwa Nabi SAW tidak melakukan qunut, namun hadits itu tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak mensunnahkan, apalagi sampai melarang dan mengharamkan qunut. Itu sesuai dengan Kaidah Ushul Fiqh yang berbunyi :
“Dalil yang menjelaskan adanya (terjadinya) suatu perkara, didahulukan dari dalil yang menyatakan bahwa perkara tersebut tidak ada. Sebab adanya penjelasan pada suatu dalil, menunjukan adanya pengetahuan (ilmu) yang lebih pada dalil tersebut.” (Syarh al-Kawkab al-Sathi’ fi Nadzm Jam’ al-Jawami’, Juz II, ha 475)

Dengan demikian membaca qunut shubuh dalam segala keadaan itu hukumnya sunnah, karena Nabi Muhammad SAW selalu melakukannya hingga beliau wafat.
Bagi saudara-saudariku yang tidak suka qunut ya tinggal tidak usah pakai saja, jangan menyalahkan orang lain yang berbeda. apa susahnya seh untuk menghormati pendapat orang lain. Contohlah akhlak Rasulullah SAW dan para salafus shalih, mereka berbeda pendapat tapi tidak saling menjelekan satu sama lainnya. Wallahu a‘lam..

Catatan : Sunnah ab’adh adalah suatu pekerjaan yang apabila ditinggalkan maka disunnahkan melakukan sujud sahwi. Kebalikannya adalah sunnah hai’at, yaitu sunnah yang apabila ditinggalkan tidak sunnah untuk mengerjakan sujud sahwi.

Untuk lebih jelasnya mengenai qunut shubuh silahkan merujuk pada :

- Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama Jilid I, Jakarta : Puataka Tarbiyah Baru, 2008.
- Muhyiddin Abdusshomad, FIQIH Tradisionalis ; Jawaban Pelbagai Persoalan Keagamaan Sehari-hari, Malang : Pustaka Bayan bekerjasama dengan PP. Nurul Islam, 2004.